Pesan Abadi dari Zabur: Tiga Prioritas Hidup yang Sering Kita Lupakan
(وَ) المقالة السابعة (عَن دَاوُد النَّبي) عليه السلام (قَالَ أُوحِىَ في الزَّبُور) وهو كتاب أُنزِلَ عليه (حَقٌّ عَلَى العَاقِل) أى واجِبُ عَلَيْهِ (أَن لَا يَشْتَغِلَّ إِلاَّ بِثَلَاثٍ) من الخصال (تَزَوَّدُ لِمَعَادِ) أى لِاَخِرَتِةِ بِأَدَاءِ الأعمال الصالحة (ومُؤنَةٌ لِمَعَاشِ) أَي قِيَامُ بِأَمْرِ كِفَايَتِهِ وصونه وفي عبارة ومرمة لمعاش بفتح الميم والراء وتشديد الميم أى اصلاحه (وَطَلَبَ لَذَةٌ بِحَلَالٍ) فَإنَّ كَسَبَ الحلالُ واجبٌ.
(Dan) perkataan yang ketujuh (tentang Nabi Daud) `alaihis-salām. (Beliau berkata: Diwahyukan dalam kitab Zabur), yaitu kitab yang diturunkan kepadanya:
“Wajib atas orang yang berakal (حَقٌّ عَلَى العَاقِل), yakni menjadi kewajiban baginya, (untuk tidak menyibukkan diri kecuali dengan tiga perkara):
- Mempersiapkan bekal untuk hari kembali (akhirat), yaitu dengan melaksanakan amal-amal saleh.
- Mengusahakan kebutuhan hidup (mu’nah li ma‘āsh), yakni berusaha memenuhi keperluan hidupnya dan menjaga dirinya. Dalam riwayat lain disebut wa marammah li ma‘āsh (dengan membuka mīm dan rā, serta mīm yang ditasydid), artinya memperbaiki urusan penghidupan.
- Mencari kenikmatan yang halal, sebab mencari penghasilan yang halal itu adalah kewajiban.”
Pesan ini sesungguhnya adalah panduan hidup yang sederhana namun sangat dalam, karena menuntun manusia untuk menata keseimbangannya antara kehidupan dunia dan akhirat.
Pertama, Nabi Daud menyampaikan bahwa orang berakal hendaknya selalu mempersiapkan bekal untuk hari kembali (akhirat). Artinya, kehidupan di dunia ini bukan tujuan akhir, melainkan jalan menuju kehidupan yang abadi. Bekal itu tidak lain adalah amal saleh, diantaranya ibadah, akhlak baik, dan perbuatan yang bermanfaat bagi sesama. Namun, jika kita melihat keadaan sekarang, banyak orang yang lalai. Kesibukan mengejar karier, harta, dan popularitas seringkali membuat manusia lupa bahwa semua itu bersifat sementara. Akibatnya, orientasi hidup menjadi semata-mata duniawi, tanpa persiapan memadai untuk kehidupan setelah mati.
Kedua, manusia diwajibkan berusaha untuk mengusahakan kebutuhan hidupnya (mu’nah li ma‘āsh). Hal ini mengajarkan bahwa Islam tidak memisahkan urusan dunia dan akhirat. Bekerja mencari nafkah adalah kewajiban, selama dilakukan dengan cara yang baik dan halal. Di zaman modern, konsep ini relevan sekali, sebab banyak orang yang terjebak dalam dua kutub ekstrim, yaitu ada yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan ibadah, dan ada pula yang hanya beribadah tanpa berusaha memenuhi kebutuhannya, sehingga bergantung pada orang lain. Nabi Daud mengingatkan bahwa orang berakal seharusnya mampu menyeimbangkan keduanya, yakni bekerja untuk hidup, sambil tetap sadar bahwa tujuan akhirnya adalah Allah.
Ketiga, Nabi Daud menekankan pentingnya mencari kenikmatan melalui yang halal. Dalam kehidupan modern, kebutuhan hiburan, rekreasi, dan kesenangan adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, pesan ini menggarisbawahi bahwa jalan yang ditempuh haruslah halal dan tidak merusak diri. Sayangnya, di era sekarang banyak orang yang justru mencari kenikmatan lewat jalan yang batil, seperti korupsi untuk meraih kekayaan cepat, pergaulan bebas untuk mengejar kesenangan sesaat, hingga konsumsi barang haram demi gaya hidup. Semua ini menunjukkan bahwa meski manusia dianugerahi akal, banyak yang lalai hingga akalnya tertutupi oleh hawa nafsu.
Jika kita renungkan, nasihat Nabi Daud ini seakan menegur manusia zaman sekarang bahwa jangan biarkan akal dikalahkan oleh kelalaian. Orang yang benar-benar berakal akan menata hidupnya dengan keseimbangan sehingga ia beribadah untuk akhirat, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dunia, dan menikmati kehidupan lewat cara-cara yang halal.
Sumber: Kitab Nashoihul Ibad, Bab 3 Maqolah 7
Penulis: Naufal Mufatih Al Fikri