Tawāḍu‘: Sebuah Seni Menempatkan Diri dalam Kehidupan

التَّوَاضُعُ

هُوَ خَفْضُ الجَنَاحِ وَالْآنَةُ الجَانِبِ مِنْ غَيْرِ حِسَّةٍ وَلَا مَذَلَّةٍ وَالْمَقْصُودُ مِنْهُ اِعْطَاءُ كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا يَرْفَعُ وَضِيعًا عَنْ دَرَجَتِهِ، وَلَا يُنْزِلُ شَرِيفًا عَنْ مَقَامِهِ وَهُوَ مِنْ أَسْبَابِ الرِّفْعَةِ وَدَوَاعِى الشَّرَفِ

.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ

Kerendahan hati adalah merendahkan diri (lembut sikapnya, tidak angkuh) serta bersikap tenang terhadap orang lain, tanpa disertai rasa hina dan tanpa menjerumuskan diri pada kehinaan. Tujuan dari tawāḍu‘ adalah memberikan hak kepada setiap yang berhak: tidak meninggikan orang yang rendah derajatnya dari tempat yang semestinya, dan tidak merendahkan orang yang mulia dari kedudukannya. Tawāḍu‘ merupakan salah satu sebab datangnya kemuliaan dan faktor pendorong tercapainya kehormatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikannya.”

Tawāḍu‘ bukan sekadar merendahkan diri di hadapan orang lain, tetapi lebih dalam, yakni sikap lembut, tenang, dan tidak sombong, tanpa disertai rasa rendah diri atau kehinaan. Dengan kata lain, tawāḍu‘ bukan berarti kehilangan harga diri, melainkan menempatkan segala sesuatu pada porsinya.

Tujuan dari tawāḍu‘ adalah i‘ṭā’ kulli dhī ḥaqqin ḥaqqahu — memberikan hak kepada setiap orang sesuai kedudukannya. Artinya, orang yang tawāḍu‘ tidak akan meninggikan orang yang seharusnya belum layak ditinggikan, dan tidak akan merendahkan orang yang memang memiliki kedudukan terhormat. Justru dengan tawāḍu‘, seseorang menjaga keseimbangan: ia tidak merasa lebih tinggi dari yang lain, tapi juga tidak menyepelekan orang yang lebih mulia.

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa tawāḍu‘ adalah pintu kemuliaan: “Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikannya.” Hadis ini menunjukkan bahwa tawāḍu‘ bukan tanda kelemahan, melainkan jalan menuju kemuliaan sejati.

Pesan ini sangat relevan di era globalisasi ini. Kita hidup di era yang seringkali menumbuhkan sifat sebaliknya, diantaranya kesombongan, ego, dan pamer. Media sosial, misalnya, menjadi wadah yang mudah memancing manusia untuk menonjolkan diri, menampilkan kesuksesan, kekayaan, atau kepintaran yang kadang bahkan dengan merendahkan orang lain secara halus maupun terang-terangan. Akibatnya, nilai tawāḍu‘ kerap terpinggirkan.

Padahal, orang yang tawāḍu‘ justru lebih dihormati. Seorang pemimpin yang tawāḍu‘ akan lebih dekat dengan rakyatnya, seorang guru yang tawāḍu‘ akan lebih dicintai muridnya, seorang teman yang tawāḍu‘ akan lebih disenangi lingkungannya. Bahkan dalam dunia profesional, orang yang rendah hati cenderung lebih mudah berkembang, karena mau belajar dari siapapun tanpa merasa paling tahu.

Dengan demikian, tawāḍu‘ adalah sikap berakal dan beradab. Bukan merendahkan diri hingga hina, tapi menempatkan diri dengan tepat, sehingga melahirkan kemuliaan.

Sumber: Kitab Taisir Kholaq, Bab Tawāḍu‘

Penulis: Naufal Mufatih Al Fikri